10 hasil upaya ko-inisiatif dan ko-kreatif

Berawal dari undangan yang diberikan oleh Gardinat Ordo Fratrum Minorum untuk belajar tentang Urban Farming, maka pada tanggal 4 September 2017, saya dan Saudara Abraham Ari OFS hadir di biara Transitus, Depok. Dalam kesempatan itu kami sempat belajar menanam sayuran dalam botol-botol bekas minuman dari seorang Bruder OFM bernama Kristoforus Pudhiharjo. Bruder menyampaikan juga pesan dari Saudara Yan Ladju OFM, agar mengembangkan tanaman organik demi menjaga lingkungan hidup. Saat itu yang disebut sayuran organik mulai kami kenal. Berikut ini pertemuan-pertemuan yang kami lakukan demi mengembangkan Usaha Komunitas, setelah paham tentang pembuatan pupuk cair dan media tanam, seperti polybag, pot-pot. Bahkan kami belajar menggunakan sistem hidroponik dengan menggunakan pipa-pipa pralon.

Betapa penting menelusuri perjalanan dari pertemuan-pertemuan yang dilakukan sesudah itu, agar jelas hendak ke mana usaha komunitas sungguh-sungguh mau dibentuk. Pertemuan-pertemuan itu sebagai berikut:

1. Tanggal 31 Oktober 2017 di jl.Tole Iskandar 61 Depok. Hadir 11 orang.
2. Tanggal 18 Januari 2018 para loper sejumlah 7 orang hadir pula.
3. Tanggal 18 Februari dan Maret 2018 hadir 5 orang tim inti
4. Tanggal 8 Mei 2018 datang ke Ciloto 7 orang untuk mengenal sayuran organik itu.
5. Masih di bulan Mei 2018 lebih dari 10 orang bertemu untuk membicarakan usaha lele.
6. Demikian di bulan Juli sempat dijelaskan dalam retret OFS di Rawaseneng.

Nah, seperti apa hasil dari upaya pengenalan usaha ini? Kiranya 10 hasil yang diharapkan dari kebersamaan ini dapat dibentuk. Seperti apa?

1. Membagi Niat Anda untuk menciptakan usaha komunitas itu.
2. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis tentang apa yang hendak dieksplorasi.
3. Menciptakan grup inti untuk mengendalikan inisiatif yang mau diambil.
4. Menciptakan tim inti untuk menggali proses-proses Teori-U.
5. Melakukan praktek-praktek kedalaman untuk mendengarkan dan percakapan.
6. Adanya struktur pendukung yang effektif.
7. Tersedia sumber-sumber daya : orang, tempat dan budget.
8. Set awal dari daya kendali untuk mengambil inisiatif.
9. Daftar awal dari kemungkinan perjalanan belajar/pelatihan.
10. Peta perjalanan awal dari jalan ke depan.

Nah, seperti apa sudah disiapkan semua ini? Jelas ada GIKKOP yang diperlukan, yaitu Gambar Diri atau identitas, Imajinasi, Kehendak atau Niat dan Kemauan, Konsentrasi atau fokus serta Pengamatan atau observasi. Gikkop memacu partisipasi dan energi kelompok untuk bergerak positif.

   

Komentar

  1. Semoga Blogger semakin banyak yang suka.

    BalasHapus
  2. Kejadian wabah Covid-19 semakin menyadarkan kita betapa penting hubungan di antara kita sebagai sesama. Saatnya kita saling menguatkan dan mendukung dengan apa yang kita miliki sesuai kesanggupan kita untuk menolong mereka yang miskin dan lemah. Juga dengan alam yang perlu mendapat perhatian yang lebih besar. Kita pun meniru sungai yang tidak meminum airnya sendiri. Pohon buah-buahan yang tidak makan hasil buahnya sendiri. Gunung yang mau berbagi keindahan dan kesejukannya bagi alam sekitar.


    Kesimpulannya telah terjadi disrupsi atau kekacauan selama ini di 3 bidang, yaitu: ekologi, spiritual dan sosial. Serangan Covid-19 semakin menunjukkan, agar kita perlu semakin serius mengenali makna kehidupan kita ini. Siapakah aku sebagai masa depan? Apa panggilan hidupku melalui pekerjaan yang kulakukan? Berangkat dari kesadaran diri, kita pun sanggup meningkatkan kerjasama dan persatuan erat di antara kita. Tujuan pun bisa dicapai untuk menciptakan masyarakat Bahtera: Bahagia, Harmonis, Tenteram dan Sejahtera. Majalah National Geography bulan April 2020 ini menawarkan 2 opsi untuk menjalani tahun 2070. Opsi pertama tentang optimisme dan ke2 tentang pesimisme apa yang akan terjadi pada saat itu. Semoga anak dan cucu kita semakin bijak menyikapi kehidupan fana ini.

    BalasHapus

Posting Komentar